Sinergi Gorontalo
Begitu luar biasa rekor perolehan suara Fadel Muhammad dan Gusnar Ismail untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo periode 2006-2011. Semua berjalan lancar, tanpa ada kekerasan politik, sehingga wajar tatkala seluruh rakyat Gorontalo perlu mendapat ucap selamat atas suguhan pesta demokrasi lokal yang damai, seraya rapalan syukur kepada Allah SWT yang memberikan kepada kita sekalian ketenangan jiwa dalam berdemokrasi.
Adapun hal-hal yang terjadi sebelum pemilihan Gubernur/Wagub, baik itu demonstrasi dan sebagainya, bagi saya hanyalah sebatas dinamika demokrasi demi sebuah pematangan jiwa berdemokrasi itu sendiri. Juga merupakan sebuah pembelajaran bagi sekalian khalayak dalam mencontoh pemimpin-pemimpin Gorontalo. Banyak pelajaran yang dapat kita tarik dari seutas tali proses demokrasi yang telah terjadi, namun betapapun baik kualitas proses penyelenggaraan demokrasi, tetapi tidak melahirkan jiwa-jiwa demokratis baru, maka inilah awal dari kehancuran demokratisasi lokal Gorontalo
Dalam batas-batas dinamika berdemokrasi yang wajar, masih lekat dalam ingatan kita semua tentang perseteruan antar pendukung Calon Gubernur/Wakil Gubernur, perang urat syaraf yang terjadi di tingkat pimpinan daerah, dan isu politik uang. Saya kira dinamika yang ada harus dikelola sedemikian rupa, agar mengubah wajah Gorontalo kita ini. Harus ada kehendak dari masing-masing elit untuk mengelola secara bersama-sama agar terjadi sinergi untuk menjadi Provinsi solid dan menjunjung tinggi semangat dulohupa dan heluma.
Pesta demokrasi telah selesai, dan saat ini kita memasuki awal dari yang namanya proses demokrasi. Ibarat pernikahan, pesta pernikahan itu hanya sesaat dan sementara, dan yang paling penting dari pernikahan itu adalah bagaimana kita merawat serta mengarungi biduk rumah tangga ini. Begitu pula kita memaknai pesta dan proses demokrasi.
Saat ini yang paling penting adalah membangun sinergi di antara elit politik Gorontalo, sebab di Gorontalo saat ini masih berlaku; tindakan rakyat adalah titah elit. Maka, membangun sinergi adalah menghargai perbedaan, menghormatinya, membangun atas dasar kekuatan, dan menutup kelemahan. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan. Menghargai perbedaan tidak menyiratkan seseorang menerima dan setuju dengan perbedaan yang ada. Namun, lebih pada sikap menghormati perbedaan dan memandangnya sebagai peluang untuk belajar. Pendapat yang berbeda sudut pandanganya dijadikan jalan untuk solusi, bukan untuk hanya diperdebatkan, atau bahkan dipertentangkan hingga kusut.
Patut diingat, menghargai lain dengan kompromi. Kompromi akan membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya hanya terpenuhi sebagian saja dari keinginannya, sisanya harus dikorbankan untuk memenuhi keinginan orang lain. Sementara, dalam bersinergi, yang muncul adalah ”pilihan alternatif”, yang memungkinkan setiap yang terlibat dalam proses sinergi akan melihat bersama-sama, mengerti kebutuhan-kebutuhan yang ada, dan bekerja sama menciptakan alternatif ketiga. Pilihan Alternatif adalah solusi kooperatif dalam semangat ”win-win solution” (sama-sama menang), yang membuat semua pihak senang. Namun, kadang-kadang kita senang jika ”menang” dan orang lain ”kalah”. Namun, ini tak mungkin bila ingin menciptakan sinergi. Dalam sinergi, tak ada pihak yang dikalahkan. Semua yang terlibat selalu menang, karena alternatif membuat semua meraih segala yang mereka inginkan.
Apakah tulisan diatas bisa dilakukan oleh elit Gorontalo, yang notabene telah ”berdarah-darah” dalam pesta kemarin? Saya optimis bahwa proses sinergi dapat dilakukan oleh seluruh elit, asalkan dalam hati setiap elit kita terbetik secercah harapan untuk membangun Gorontalo dalam berbagai macam perspektif.
Oleh karena itu, terlalu dini kiranya kita mengucapkan selamat bagi Fadel Muhammad dan Gusnar Ismail saat ini. Karena bagi saya, ucapan selamat dan sukses kepada Fadel Muhammad dan Gusnar Ismail hanya patut kita ucapkan jika mereka telah selesai mengelola dinamika demokrasi, membangun sinergi antar elit serta merealisasikan janji-janji kampanye silam. Kita tidak perlu ”setor muka” dalam iklan di media-media lokal. Karena bagi saya, setiap jengkal iklan ucapan selamat yang ada hanya akan membawa Fadel Muhammad dan Gusnar Ismail ke arah over confident, lupa daratan dan cenderung status quo.
Memang saya akui ini semua tak mudah, tetapi bukan tak mungkin jika kita punya tekad kuat menciptakannya. Saya hanya bisa membayangkan jika semua elemen tanah Gorontalo bisa duduk bersama, untuk berbagi ”kekesalan” bersama, berpikir jernih bersama, menahan diri untuk tidak ”gontok-gontokan” dan bersemangat mencari solusi bagi kemajuan Gorontalo. Dan yang patut mendapat ucapan selamat adalah seluruh rakyat Gorontalo, yang telah berpesta bersama, beritikad bersama dan bergembira bersama karena telah berhasil melahirkan titik awal (pelatuk) dari sebuah proses panjang demokrasi.